Gambar Tomohon

Tomohon,- Aktivitas pendakian Gunung Lokon, Gunung Empung, dan Gunung Mahawu di Kota Tomohon ditutup Pemerintah. Itu merupakan pencegahan dan kewaspadaan menghadapi potensi bencana.

Pemerintah Kota Tomohon, melalui Kabag Prokopim, Christo Kalumata SSTP menerangkan, langkah itu diambil, memperhatikan rekomendasi teknis dari BKSDA Sulawesi Utara dan Pos Pengamatan Gunung Api PVMBG.

“Selain itu, arahan dan instruksi Menteri Dalam Negeri dan Gubernur Sulawesi Utara terkait pencegahan dan penanggulangan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), khususnya dalam menghadapi kondisi musim kemarau,” beber Christo, Minggu (30/8/2026).

Ia melanjutkan, kebijakan ini bukan menghentikan aktivitas para pendaki maupun komunitas pencinta alam. Namun, kata dia, sebagau bentuk kehati-hatian dan tanggung jawab untuk keselamatan jiwa sekaligus melindungi kawasan hutan dan ekosistem dari potensi kerusakan maupun kebakaran.

Christo Kalumata menjelaskan, Gunung Lokon saat ini berstatus Level II atau waspada. Sehingga aktivitas masyarakat dalam radius 1,5 kilometer dari Kawah Tompaluan harus dihindari sesuai rekomendasi PVMBG.

Sementara Gunung Empung, meskipun bukan gunung api aktif tersendiri, berada dalam kawasan Cagar Alam Lokon-Empung dan secara geografis berada tepat di depan Kawah Tompaluan

“Sehingga aktivitas di kawasan tersebut, perlu mengikuti ketentuan konservasi dan batas keselamatan yang berlaku,” terang Christo.

Adapun Gunung Mahawu adalah Gunung Berapi yang saat ini berstatus Level I atau Normal. Namun, kawasan ini merupakan kawasan hutan lindung yang tetap harus dijaga. “Terlebih dalam kondisi musim kemarau ketika potensi kebakaran hutan dan lahan dapat meningkat,” pungkasnya.

Di sisi laik, Kalaksa BPBD Kota Tomohon, Hengky Supit SIP, mengajak masyarakat, khususnya para pendaki dan komunitas pencinta alam, untuk menahan diri sementara dan mendukung kebijakan ini.

“Menutup jalur pendakian bukan berarti menghentikan kecintaan kita kepada alam. Justru dengan menahan diri, mematuhi ketentuan dan menjaga kawasan, kita sedang menunjukkan bahwa mencintai alam berarti juga menghormati keselamatan dan kelestariannya,” tutur Hengky.

Dilanjutkan, dengan semangat kebersamaan, Pemerintah Daerah, masyarakat, komunitas pencinta alam, dan seluruh pemangku kepentingan diharapkan dapat mengambil bagian dalam pencegahan karhutla, perlindungan kawasan konservasi dan hutan lindung, serta peningkatan kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana selama musim kemarau.

“BPBD bersama Pemerintah Kelurahan dan Kecamatan telah memasang baliho-baliho peringatan sebagai sosialisasi bagi masyarakat. Kami juga berharap rekan-rekan pencinta alam, para pemandu-pemandu wisata dan masyarakat sekitar untuk membantu mensosialisasikan kebijakan ini,” harapnya.

Penutupan ini, Hengky yakini, tidak akan permanen. Pihaknya berharap, semua akan kembali normal dan pasti akan kami umumkan kembali untuk pembukaan jalur pendakian.

“Keselamatan jiwa adalah prioritas. Kelestarian alam adalah tanggung jawab bersama,” pungkas matan Kadis Kominfo Tomohon tersebut.