Tondano,- Proses pemilihan Remaja Teladan (Retel) Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM), sementara bergulir. Untuk Rayon 1 Minahasa, pemilihan Retel telah mencapai tahapan Kompetensi Potensi Diri (KPD), Sabtu (30/05/26).
Dalam tahapan KPD, setiap finalis remaja teladan wajib memaparkan Karya Tulis Ilmiah (KTI) yang berkaitan dengan Danau Tondano. Sekira 20 finalis sukses memaparkan karya mereka.
Menariknya, terdapat salah satu finalis muda yang mampu mencuri perhatian dewan juri dan penonton yang hadir. Adalah Mikhaella C.A. Rempas, salah satu siswi kelas 2 di SMP Negeri 1 Tondano.
Finalis yang berasal dari Jemaat GMIM Eben Haezer Ranomerut, Wilayah Tandengan ini tampil luar biasa saat mengupas karya tulis dengan judul “Budaya Maswang Bagi Remaja GMIM Dalam Pelestarian Danau Tondano”.
Dalam pemaparannya, remaja berusia 14 tahun ini menerangkan, Danau Tondano merupakan salah satu poros perekonomian masyarakat pesisir danau, masyarakat Minahasa bahkan Sulawesi Utara (Sulut). Danau kebanggaaan ‘tou’ Malesung ini, menghasilkan energi listrik lewat aliran air menuju Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Tonsea.
Selanjutnya, pemanfaatan air bagi irigasi maupun air minum. Begitu juga dengan produksi ikan air tawar.
“Makanya, bagi kami masyarakat yang berdomisili di pesisir Danau Tondano, danau ini juga dijuluki danau berkat. Itu karena perannya yang strategis bagi kehidupan masyarakat,” papar pemilik sabuk cokelat karate ini.
Sayangnya, Mikha bilang, danau vulkanik terbesar di bumi Nyiur Melambai itu dihantam sederet persoalan. Salah satunya adalah pendangkalan danau. Kedalaman danau semakin menyusut setiap tahun.
“Data yang kami kutip dari Kementerian Lingkungan Hidup tahun 2006 dalam tulisan Profil Danau Tondano menerangkan, pada tahun 1934 kedalaman danau mencapai 40 meter. Namun, pada tahun 1974 kedalaman tinggal mencapai 28 meter. Jadi, laju pendangkalan mencapai 0,027 meter per tahun. Di tahun 2001, KLH menyebut kedalaman Danau Tondano tinggal 20 meter. Jadi, laju pendangkalan meningkat menjadi 0,296 meter per tahun. Terbaru data dari pemberitaaan salah satu media nasional, danau ini tinggal 13,5 meter pada tahun 2023. Dengan perkiraan, bisa jadi 30-40 tahun ke depan danau ini bisa tinggal kenangan,” sebut dia.
Oleh karena itu, Mikha mengusulkan adanya upaya nyata dalam melindungi Danau Tondano dari pendangkalan.
“Data yang kami dapat, selain proses sedimentasi, salah satu pemicu pendangkalan adalah sampah. Nah, ini yang harus menjadi atensi semua stake holder, termasuk pemerintah dan masyarakat,” harapnya.
Bagi Mikha, edukasi dan sosialisasi tentang bahaya sampah harus terus digalakkan.
“Semua lapisan masyarakat terpanggil untuk menjaga kebersihan sungai yang bermuara di danau. Begitu juga dengan aksi-aksi nyata mengangkat sampah. Di sini remaja GMIM punya peran besar sebagai duta-duta sosialisasi bagi internal remaja GMIM, masyarakat dan jemaat. Sifat sense of belonging atau rasa memiliki terhadap Danau Tondano harus terus tumbuh,” sambung Mikha.
Terkait upaya penyelamatan Danau Tondano, dia meyakini harus dilakukan secara bersama-sama, gotong royong dan ‘baku bantu’. NIlai-nilai itu yang terkandung dalam Budaya Masawang yang menjadi falsafah hidup orang Minahasa sejak dulu.
“Budaya Masawang atau Masawa-sawangan adalah kearifan lokal suku Minahasa yang bermakna saling tolong-menolong, menopang dan membantu. Tradisi ini berakar dari filosofi dasar leluhur Minahasa agar setiap individu hidup berdampingan secara harmonis dan tidak mementingkan diri sendiri. Budaya ini mendorong masyarakat untuk mengulurkan tangan, meringankan beban sesama tanpa pamrih,” aku Mikha.
“Itu yang membuat saya tertarik mengangkat karya tulis ini dengan mengaitkan Budaya Masawang bagi pelestarian Danau Tondano. Bagaimana kita masawa-sawangan dalam menjaga kelestarian Danau Tondano. Apalagi, untuk menjaga kelestarian danau merupakan aksi nyata dalam menjabarkan perintah Allah yang tertuang dalam Alkitab. Kejadian 2 ayat 15 menerangkan bahwa Allah menempatkan manusia di Taman Eden bukan untuk mengeksploitasi, melainkan untuk mengusahakan dan memeliharanya. Selanjutnya, Mazmur 24:1 bilang, bumi adalah milik Tuhan. Itu menegaskan bahwa bumi dan segala isinya adalah kepunyaan Allah. Manusia hanyalah penatalayan atau pengurus sementara yang akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang telah dipercayakan kepadanya,” kuncinya.
Diketahui, Mikhaella C.A. Rempas merupakan salah satu finalis Remaja Teladan Rayon 1 Minahasa. Rencananya, puncak pemilihan Retel Rayon 1 Minahasa akan dilaksanakan di Kantor DPRD Minahasa pada Sabtu (06/06/26).
“Dengan penuh kerendahan hati, mohon dukungannya. Caranya, follow akun instagram retel1minahasa kemudian like, coment dan share foto peserta dengan nomor urut 3 Mikhaella C.A. Rempas. Terima kasih,” pinta Mikha.
